Selasa, 29 Desember 2009

Standarisasi AgNO3

III. Standarisasi Larutan AgNO3



1. Tujuan
Praktikan mampu menentukan konsentrasi AgNO3 dengan menitrasinya dengan menggunakan larutan standar primer NaCl.

2. Dasar teori
Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam
larutan pemeriksaan dapat ditentukan.Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasindenganbAgNO3hyaitu:
1.Indikator
2.Amperometri
3.Indikatorbkimia
Berdasarkankpadajindikatorjyangkdigunakan,kargentometrikdapatldibedakankatas:
1.jMetode.Mohrk(pembentukankendapanlberwarna)
Metode Mohr dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan K2CHO4 sebagai indikator. Titrasi dengan cara ini harus dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis, pH 6,5 – 9,0.Dalam suasana asam, perak kromat larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan terbentuk endapan perak hidroksida. Reaksi yang
terjadijadalahk:
Asamj:K2CrO42-n+,2H-n↔jCrO72-k+jH2O
Basah:ljj2Ag+m+k2OH-l↔l2AgOH
2AgOHl↔lAg2O.+lH2O
Sesama larutan dapat diukur dengan natrium bikorbonat atau kalsium karbonat. Larutan alkalis diasamkan dulu dengan asam asetat atau asam borat sebelum dinetralkan dengan kalsium karbonat. Meskipun menurut hasil kali kelarutan iodida dan tiosianat mungkin untuk ditetapkan kadarnya dengan cara ini. Namun oleh karena perak lodida maupun tiosanat sangat kuat menyerang kromat, maka hasilnya tidak memuaskan. Perak juga tidak dapat ditetapkan dengan titrasi menggunakan NaCl sebagai titran karena endapan perak kromat yang mula-mula terbentuk sukar bereaksi pada titik akhir. Larutan klorida atau bromida dalam suasana netral atau agak katalis dititrasi dengan larutan titer perak nitrat menggunakan indikator kromat.Apabila ion klorida atau bromida telah habis diendapkan oleh ion perak,maka ion kromat akan bereaksi membentuk endapan perak kromat yang berwarna coklat/merah bata sebagai titik akhir titrasi.Sebagai indikator digunakan larutan kromat K2CrO4 5% yang dengan ion perak akan membentuk endapan coklat merah dalam suasana netral atau agak alkalis. Kelebihan indikator yang berwarna
kuning akan menganggu warna, ini dapat diatasi dengan melarutkan blanko indikator suatu titrasi tanpa zat uji dengan penambaan kalsium karbonat sebagai pengganti endapan AgCl.
2.jModeljValhardh(Penentujzatkwarnajyangkmudahjlarut).
Metode ini digunakan dalam penentuan ion Cl+, Br -, dan I- dengan penambahan larutan standar AgNO3. Indikator yang dipakai adalah Fe3+ dengan titran NH4CNS, untuk menentralkan kadar garam perak dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan standar berlebih. Kelebihan AgNO3 dititrasi dengan larutan standar KCNS, sedangkan indikator yang digunakan adalah ion Fe3+ dimana kelebihan larutan KCNS akan diikat oleh ion Fe3+cmembentukkwarnajmerahkdarahkdarikFeSCN.
3.jMotodekFajansk(IndikatorkAbsorbsi)
Titrasi argenometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada cara Mohr, hanya terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan.Indikator yang digunakan dalam cara ini adalah indikator absorbsi seperticosine atau fluonescein menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+.

3. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
• Statif
• Buret
• Pipet gondok
• Pipet tetes
• Erlenmeyer
• Corong gelas
• Pipet volume 10 mL
• Gelas beker

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
• Larutan AgNO3 0.1 N
• Larutan standar primer NaCl 0.0100 N
• Indikator K2CrO4 5%

4. Cara Kerja
• Dipipet 5.0 mL sampel masukkan dalam erlenmeyer
• Tambahkan 1 mL K2CrO4 5%
• Titrasi dengan larutanAgNO3 0.1 N sampai terbentuk endapan merah bata.











5. Hasil Pengamatan

Volume NaCl 0,010 N (mL) Volume AgNO3 (mL)
10.00 9,65
10.00 9,90
10.00 10,00
10.00 10,00
10.00 9,90
Rata-rata = 10,00 9,89

6. Perhitungan dan Pembahasan

Pehitungan
N1 . V1 = N2 . V2
N AgNO3 . V AgNO3 = N NaCl . V NaCl
N AgNO3 =
N AgNO3 = = 0,101 N

Pembahasan
Pada titrasi ini kita menggunakan metode titrasi mohr.Titrasi Mohr terbatas untuk larutan dengan nilai pH antara 6 – 10. Artinya titrasi tersebut tidak boleh dalam suasana terlalu basa atau terlalau asam. Dalam larutan yang lebih basa perak oksida akan mengendap. Dalam larutan asam konsentrasi ion kromat akan sangat dikurangi, karena HCrO4 hanya terionisasi sedikit sekali. Lagi pula hidrogen kromat berada dalam kesetimbangan dengan dikromat.NaCl yang telah dibubuhi indikator dititrasi dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3).Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat terendapkan,sehingga kadar larutan AgNO3 dapat ditentukan. Dipilih indikator K2CrO4 karena suasana sistem cenderung netral.
Kalium kromat hanya bisa digunakan dalam suasana netral. Jika kalium kromat pada reaksi dengan suasana asam, maka ion kromat menjadi ion bikromat dengan reaksi :
2 CrO4 2- + 2 H+ ↔ Cr2O72- + H2O
Sedangkan dalam suasana basa, ion Ag+ akan bereaksi dengan OH- dari basa dan membentuk endapan Ag(OH) dan selanjutnya teroksidasi menjadi A2O dengan reaksi :
2 Ag+ + 2OH- ↓ ↔ H2O
Hasil reaksi ini berupa endapan AgCl. Ag+ dan AgNO3 dengan Cl- dari NaCl akan bereaksi membentuk endapan AgCl yang berwarna putih. Setelah
ion Cl- dalam NaCl telah bereaksi semua, maka ion Ag+ akan bereaksi dengan ion CrO4
2- dari K2CrO4 (indikator) yang ditandai dengan perubahan warna, dari kuning menjadi merah bata. Saat itulah yaitu saat AgNO3 tepat habis bereaksi dengan NaCl. Keadaan tersebut dinamakan titik ekuivalen dimana jumlah mol grek AgNO3 sama dengan jumlah mol grek NaCl.Pemilihan indikator dilihat juga dari kelarutan. Ion Cl- lebih dulu
bereaksi pada ion CrO42-, kemungkinan karena perbedaan keelektronegatifan Ag+ dan Cl- lebih besar dibandingkan Ag+ dan CrO42-.
7. Kesimpulan
Dari uraian yang kami paparkan di atas maka dapat kami simpulkan bahwa titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata.





















8. Daftar Kepustakaan

http://dakwahdankimia.blogspot.com/.
Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima.
Jakarta : Erlangga
Harizul, Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta : UI Press
22
Hidayati,Ana, M.Si. 2007. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Analitik Dasar I.
Semarang : Laboratorium Kimia Dasar FT IAIN Walisongo.
Khopkhar, SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar