Selasa, 12 Januari 2010

makalah akhir tasawuf

ISTILAH DALAM TASAWUF

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Akhlak dan Tasawuf
Dosen Pengampu : Drs. Syamsudin Yahya














Disusun Oleh:
Taslim Wahyudin (083711040)





FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
I. PENDAHULUAN
Keyakinan dan perasaan akan Kemahahadiran Tuhan akan memberikan kekuatan, kendali, dan kedamaian jiwa seseorang sehingga yang bersangkutan merasa senantiasa berada dalam orbit Tuhan, yang selalu menjadi pegangan hakiki. Nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika semua perilaku lahir dan bathin diorientasikan pada Tuhan, dan pada waktu yang bersamaan membawa dampak konkret terhadap peningkatan nilai-nilai kemanusiaan. Pendeknya, manusia tidak bisa dipahami tanpa ketergantungan dengan Tuhan dan keterkaitan dengan manusia lain baik secara individual maupun komunal. Pemahaman seperti ini sesungguhnya berada pada wacana spiritualitas, dan dalam khazanah intelektual Islam disebut ”tasawuf”.

II. RUMUSAN MASALAH
1. Mujahadah
2. Riyadhah
3. Musyahada
4. Muqarabah
5. Muhassabah
6. Munajah
7. Dzikrul Maut

III. PEMBAHASAN

1. Mujahadah
Mujahadah yaitu perjuangan dan upaya spiritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah (nafs). Mujahadah adalah perang terus-menerus yang disebut Perang Suci Besar (al-jihad al-akbar). Perang ini menggunakan berbagai senjata samawi berupa mengingat Allah (dzikrullah). Mereka yang sudah matang dalam menempuh Jalan spiritual. Mereka yang ”mengenal Allah” (’arifin), mengatakan bahwa mujahadah adalah permainan kanak-kanak! Pekerjaan Orang-orang Dewasa sesungguhnya adalah Pengetahuan Ilahi (ma’rifah) .
Mujahadah juga diartikan bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Allah menegaskan dalam firmannya :
سبلناHلنهدينهمBفيناjjجاهدواHوالذين
Orang-orang yang sungguh (mujahadah) dijalan Kami, Kami akan berikan hidayah kejalanKkami.
Terkadang kita ibadah tidak dibarengi dengan kesungguhan, hanya menggugurkan kewajiban saja, takut jatuh kedalam dosa dan menapaki kehidupan beragama asal-asalan. Padahal bagi seorang muslim yang ingin menjadi orang-orang yang bertakwa, maka mujahadah atau penuh kesungguhan adalah bagian tak terpisahkan dalam menggapai ketakwaan disamping muhasabah dan mu’ahadah.

2. Riyadhah
Riyadhah adalah asketis atau latihan kezuhudan. Di sepanjang tahap-tahap awal dalam Perjalanan Kembali Menuju Allah, ketia sang penempuh jalan spiritual berada dalam kondisi ketidakseimbangan (inhiraf), ia mestilah berupaya sekuat tenaga dalam perjuangan spiritual (mujahadah) dan disiplin asketis (riyadhah). Dengan rahmat Allah, hal ini akan mengantarkannya pada keadaan harmoni dan keseimbangan yang lebih besar. Berkenaan dengan seluruh metode dalam Tasawuf, disiplin asketis hanyalah sekadar ”sarana” dan bukan”tujuan itu sendiri”. Ketika keseimbangan sempurna dicapai, orang yang mengenal Allah pun menggantikan asketismenya dengan moderasi. Riyadhah paling besar dari seorang hamba berpengetahuan ialah tidak mengingkari Allah dalam bentuk apa pun dan tidak membatasi Allah dengan Ketakterbandingan-Nya. Allah sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pengakuan akan Ketakterbandingan-Nya, sebab pengakuan ini membatasi Allah .
Riyadhah perlu dilakukan karena ilmu ma’rifat dapat diperoleh melalui upaya melakukan perbuatan kesalehan atau kebaikan yang terus-menerus. Dalam hal ini, riyadhah berguna untuk menempa tubuh jasmani dan akal budi orang yang melakukan latihan-latihan itu sehingga mampu menangkap dan menerima komunikasi dari alam ghaib transendental. Hal terpenting dari riyadhah adalah melatih jiwa melepaskan ketergantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan Ilahi. Dengan demikian, riyadhah akan menghantarkan seseorang selalu berada di bawah bayangan yang kudus.

3. Musyahadah
Yaitu Penyaksian atau visi. Musyahadah adalah sejenis pengetahuan langsung tentang Hakikat. Penyaksian ini terjadi dalam berbagai cara. Sebagian penempuh Jalan Spiritual dan kaun Tarekat menyaksikan Allah sebelum, sesudah, atau bersama segala sesuatu. Sebagian lain menyaksikan Allah sendiri. Dan karena Allah tidak pernah mengungkapkan diri-Nya secara sama dalam dua momen berturut-turut pada sesuatu, maka penyaksian itu tak terbatas dan tak berakhir. Inilah salah satu nikmat yang dirasakan oleh para penghuni Surga .

4. Muraqabah
Berasal dari kata raqib yang berarti penjaga atau pengawal. Dalam al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 52, Allah menegaskan:
رَّقِيباً شَيْءٍ كُلِّ عَلَى اللَّهُ وَكَانَ
”Dan Allah Maha mengawasi segala sesuatu.”
Secara terminologis, melestarikan pengamatan terhadap Allah dengan hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya. Muraqabah meresapkan kesadaran bahwa Allah melihat, mengawasi, memonitor diri kita dalam gerak dan diam kita, baik lahir maupun batin. Sasarannya adalah agar sirr dikosongkan dari pikiran tentang segala sesuatu selain Allah dan sepenuhnya mesti disibukkan dengan merenungkan Allah semata atau tafakur .
Jadi muraqabah berarti merasa diawasi Tuhan. Dalam kitab Raudhah al-Thalibin, al-Ghazali menyandingkan makna muraqabah dengan haya’ (malu), yang keduanya bersandarkan pada ihsan.
Muraqabah merupakan sumber utama ketakwaan. Dengan menerapkan muraqabah seseorang akan mengetahui dalam hatinya bahwa Allah akan mendengar, mengetahui dan melihat, sehingga akan membuahkan rasa malu, rasa takut dan hormat kepada Allah. Lebih lanjut, al-Ghazali menjelaskan bahwa muraqabah terdiri dari dua derajat, yaitu: Derajat muraqabah siddiqin, dan derajat muraqabah asbab al-yamin .
Dulu dimasa sahabat, sikap muraqabah tertanam dengan baik dihati setiap kaum muslimin. Kita bisa ambil sebuah contoh kisah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Umar berkata kepada anak tersebut: Wahai anak gembala, juallah kepada saya seekor kambingmu! Si anak gembala menjawab : Kambing-kambing ini ada pemliknya, saya hanya sekedar menggembalakannya saja. Umar lalu berkata : Sudahlah, katakan saja kepada tuanmu, mati dimakan serigala kalau hilang satu tidak akan ketahuan. Dengan tegas si anak itu menjawab : Jika demikian, dimanakah Allah itu? Umar demi mendengar jawaban si anak gembala ia pun menangis dan kemudian memerdekakannya.
Lihatlah, seorang anak gembala yang tidak berpendidikan dan hidup didalam kelas sosial yang rendah tetapi memiliki sifat yang sangat mulia yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh Allah dalam segala hal. Itulah yang disebut dengan muraqabah. Muraqabah adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin menjadikan takwa sebagai bekal hidup kita ditahun ini dan tahun yang akan datang. Jika sikap ini dimiliki oleh setiap muslim, insya Allah kita tidak akan terjerumus pada perbuatan maksiat. Imam Ghazali mengatakan : ‘Aku yakin dan percaya bahwa Allah selalu melihatku maka aku malu berbuat maksiat kepada-Nya”.

5. Muhasabah
Yaitu Analisis teus-menerus atas hati berikut keadaannya yang selalu berubah. Selama muhasabah, orang yang merenung pun memeriksa gerakan hati yang paling tersembunyi dan paling rahasia. Dia menghisap dirinya sendiri sekarang tanpa menunggu hingga Hari Kebangkitan .

6. Munajah
Berarti Do’a pribadi. Munajah adalah doa dalam bentuk percakapan intim antara Allah dan manusia. Di dalamnya, Allah dan manusia saling bertukar kata-kata cinta dan belas kasih sehingga hati menjadi tenang serta terhibur. Karena itu, munajat sebenarnya mencerminkan jejak-jejak ruhani kekasih Allah .
Tampaknya, sebagian kaum sufi menganggap jejak-jejak ruhani yang terekam dalam munajat itu bisa dialamikembali. Dengan mengamalkan munajat tertentu misalnya, kita bisa menelusuri relung-relung ruhani sang kekasih Allah yang pertama kali memanjatkan munajat itu. Umpamanya, ketika kita dicekam oleh rasa takut (khauf) dan ingin kembali memupuk rasa harap(raja’), menurut Al-Ghazali, sebaiknya kita baca saja do’a cinta baginda Rasul saw.
”Ya Allah berilah aku rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan rasa cinta kepada segala hal yang mendorong aku mencintai-Mu. Dan jadikan cinta kepada-Mu lebih aku cintai ketimbang air segar .”
Untuk tujuan semacam itulah barangkali para sufi kemudian berusaha menghimpun munajat para kekasih Allah. Antara lain adalah munajat ahlul bait dalam ”Rintihan Gita Suci Keluarga Nabi” dan munajat Imam Ali Zainal Abidin dalam ”Shahifah Sajjadiyah”. Di dalamnya kita temukan jejak-jejak ruhani seperti taubat, sabar, syukur, harap dan cemas, cinta dan lain-lain. Munajat-munajat seperti ini hingga kini masih banyak diamalkan .

7. Dzikrul Maut
Secara harfiah, dzikir berarti ingat, jadi dzikrul maut artinya mengingat mati. Banyak sekali ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang mengingat mati.
تُرْجَعُونَ إِلَيْنَا ثُمَّ الْمَوْتِ ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan

يُرِدْ وَمَن مِنْهَا نُؤْتِهِ الدُّنْيَا ثَوَابَ يُرِدْ وَمَن مُّؤَجَّلاً كِتَاباً الله بِإِذْنِ إِلاَّ تَمُوتَ أَنْ لِنَفْسٍ كَانَ وَمَا
رِينَالشَّاكِجْزِي وَسَنَ مِنْهَا نُؤْتِهِ الآخِرَةِ ثَوَابَ

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Dalam hadits juga banyak dinyatakan tentang kematian. Seperti jawaban Nabi atas pertanyaan sahabat Anshar, tentang manusia yang cerdik, yaitu:”Manusia yang paling banyak ingat akan mati, dan paling banyak menyiapkan bekal untuk mati, mereka itulah orang yang cerdik pandai.”
Dzikrul maut atau mengingat mati dapat dilakukan dengan cara i’tibar (mengambil contoh atau teladan) terhadap saudara-saudara yang mendahului kita. Kita disunahkan setiap kali menjumpai kuburan mengucapkan salam:”Assalamu’alaikum ya ahlal kubur, wainna insya Allah bikum lahiqun (salam sejahtera bagimu wahai penghuni kubur, dan Insyaallah kami akan menyusulmu) .

IV. KESIMPULAN
1. Mujahadah berarti bersungguh-sungguh kepada Allah SWT
2. Hal terpenting dari riyadhah adalah melatih jiwa melepaskan ketergantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan Ilahi.
3. Musyahadah adalah sejenis pengetahuan langsung tentang Hakikat.
4. Dengan menerapkan muraqabah seseorang akan mengetahui dalam hatinya bahwa Allah akan mendengar, mengetahui dan melihat, sehingga akan membuahkan rasa malu, rasa takut dan hormat kepada Allah.
5. Muhasabah yaitu Analisis teus-menerus atas hati berikut keadaannya yang selalu berubah
6. Munajah adalah doa dalam bentuk percakapan intim antara Allah dan manusia. Di dalamnya, Allah dan manusia saling bertukar kata-kata cinta dan belas kasih sehingga hati menjadi tenang serta terhibur.
7. Dzikrul maut atau mengingat mati dapat dilakukan dengan cara i’tibar (mengambil contoh atau teladan) terhadap saudara-saudara yang mendahului kita.

V. PENUTUP
Demikian makalah ini saya buat. Dalam makalah tersebut memang tidak begitu dijelaskan secara panjang mengenai istilah-istilah dalam Tasawuf. Kami yakin masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Namun sedikit banyak makalah ini Insya Allah bisa memberi sedikit kontribusi bagi kita semua tentang pemahaman tentang Istilah-istilah dalam tasawuf.Mohon maaf bila dalam penulisan masih terdapat banyak kesalahan.Semoga makalah yang simpel ini bisa memberikan wacana untuk kita ke depan dalam membangun masyarakat yang penuh dengan nilai-nilai islam.

















VI. DAFTAR KEPUSTAKAAN

Amstrong,Amanatullah, KHAZANAH ISTILAH SUFI, Bandung:Mizan, 2001.

Solihinan dan Rosihon Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung: Rosdakarya, 2002.
Syukur, Amin, Tasawuf Bagi Orang Awam, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar